Rabu, 31 Oktober 2012
Bahasa
BAHASA
Pengertian Bahasa Menurut Para Ahli
• BILL ADAMS
Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif
• WITTGENSTEIN
Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis
• FERDINAND DE SAUSSURE
Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain
• PLATO
Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut
• BLOCH & TRAGER
Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama.
• CARROL
Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia
Dari pendapat para ahli diatas, dapat kita simpulkan bahasa merupakan alat komunikasi.
Kegunaan Bahasa
Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
SOSIALISASI
1. Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.
2. Jenis-jenis Sosialisasi
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua:
• Sosialisasi Primer
Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
• Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan' identitas diri yang lama.
3. Proses Sosialisasi
Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap sebagai berikut:
• Tahap Persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang diajarkan ibu kepada anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
• Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya. Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant other)
• Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
• Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
4. Agen Sosialisasi
• Keluarga (kinship)
Bagi keluarga inti (nuclear family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya, sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada diluar anggota kerabat biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaeger peranan para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya sendiri.
• Teman pergaulan
Teman pergaulan (sering juga disebut teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada masa remaja. Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang individu.
Berbeda dengan proses sosialisasi dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia, pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
• Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut Dreeben, dalam lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity). Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.
• Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas dan frekuensi pesan yang disampaikan.
Kebudayaan Sumatera Barat
Kebudayaan Sumatera Barat
Sumatera Barat memiliki aneka ragam budaya yang menarik. Sumatera Barat menggunakan bahasa Minang yang mana pusat Minangkabau itu terletak di Batusangkar. Sumatera barat memiliki daratan rendah yang mana bersentuhan dengan Samudera Hindia dan memiliki daratan tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan.
Salah satu kebudayaan yang ada di Sumatera Barat :
• Olahraga
Provinsi Sumatera Barat memiliki beberapa event olahraga yang berskala lokal, nasional maupun internasional dalam meningkatkan pariwisatanya, di antaranya lomba pacu kuda. Perlombaan pacu kuda ini sudah menjadi tradisi dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Minangkabau khususnya, saat ini sudah menjadi rangkaian perlombaan dengan beberapa kota/kabupaten lain di Sumatera Barat yang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah satu kali tiap tahunnya, sementara pesertanya juga ada dari luar Sumatera Barat.
• Musik
Nuansa Minangkabau yang ada di dalam setiap musik Sumatera Barat yang dicampur dengan jenis musik apapun saat ini pasti akan terlihat dari setiap karya lagu yang beredar di masyarat. Hal ini karena musik Minang bisa diracik dengan aliran musik jenis apapun sehingga enak didengar dan bisa diterima oleh masyarakat. Unsur musik pemberi nuansa terdiri dari instrumen alat musik tradisional saluang, bansi, talempong, rabab, pupuik, serunai, dan gandang tabuik.
Ada pula saluang jo dendang, yakni penyampaian dendang (cerita berlagu) yang diiringi saluang yang dikenal juga dengan nama sijobang.
Musik Minangkabau berupa instrumentalia dan lagu-lagu dari daerah ini pada umumnya bersifat melankolis. Hal ini berkaitan erat dengan struktur masyarakatnya yang memiliki rasa persaudaraan, hubungan kekeluargaan dan kecintaan akan kampung halaman yang tinggi ditunjang dengan kebiasaan pergi merantau.
• Tarian tradisional
Secara garis besar seni tari dari Sumatera Barat adalah dari adat budaya etnis Minangkabau dan etnis Mentawai. Kekhasan seni tari Minangkabau umumnya dipengaruhi oleh agama Islam, keunikan adat matrilineal dan kebiasan merantau masyarakatnya juga memberi pengaruh besar dalam jiwa sebuah tari tradisi yang bersifat klasik, di antaranya Tari Pasambahan, Tari Piring, Tari Payung dan Tari Indang. Sementara itu terdapat pula suatu pertunjukan khas etnis Minangkabau lainnya berupa perpaduan unik antara seni bela diri yang disebut silek dengan tarian, nyanyian dan seni peran (acting) yang dikenal dengan nama Randai.
Sedangkan untuk tarian khas etnis Mentawai disebut Turuk Laggai. Tarian Turuk Langai ini umumnya bercerita tentang tingkah laku hewan, sehingga judulnya pun disesuaikan dengan nama-nama hewan tersebut, misalnya tari burung, tari monyet, tari ayam, tari ular dan sebagainya.
• Rumah adat
Rumah adat Sumatera Barat khususnya dari etnis Minangkabau disebut Rumah Gadang. Rumah Gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum tersebut secara turun temurun. Tidak jauh dari komplek rumah gadang tersebut biasanya juga dibangun sebuah surau kaum yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat tinggal lelaki dewasa kaum tersebut namun belum menikah.
Rumah Gadang ini dibuat berbentuk empat persegi panjang dan dibagi atas dua bahagian muka dan belakang, umumnya berbahan kayu, dan sepintas kelihatan seperti berbentuk rumah panggung dengan atap yang khas, menonjol seperti tanduk kerbau, masyarakat setempat menyebutnya Gonjong dan dahulunya atap ini berbahan ijuk sebelum berganti dengan atap seng. Rumah Bagonjong ini menurut masyarakat setempat diilhami dari tambo, yang mengisahkan kedatangan nenek moyang mereka dengan kapal dari laut. Ciri khas lain rumah adat ini adalah tidak memakai paku besi tapi menggunakan pasak dari kayu, namun cukup kuat sebagai pengikat.
• Senjata tradisional
Senjata tradisional Sumatera Barat adalah Keris. Keris biasanya dipakai oleh kaum laki-laki dan diletakkan di sebelah depan, dan umumnya dipakai oleh para penghulu terutama dalam setiap acara resmi ada terutama dalam acara malewa gala atau pengukuhan gelar, selain itu juga biasa dipakai oleh para mempelai pria dalam acara majlis perkawinan yang masyarakat setempat menyebutnya baralek. Berbagai jenis senjata juga pernah digunakan seperti tombak, pedang panjang, panah, sumpit dan sebagainya.
• Masakan khas
Dalam dunia kuliner, Sumatera Barat terkenal dengan masakan Padang dan restoran Padang, dengan citarasa yang pedas, dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru Nusantara, bahkan sampai ke luar negeri. Beberapa contoh makanan dari Sumatera Barat yang cukup populer adalah Rendang, Sate Padang, Dendeng Balado, Itiak Lado Mudo, Soto Padang, dan Bubur Kampiun.
Setiap kawasan di Sumatera Barat, memiliki makanan sebagai ciri khas daerah, yang biasa dijadikan sebagai buah tangan (oleh-oleh) misalnya: kota Padang terkenal dengan bengkuang, kota Padangpanjang terkenal dengan pergedel jaguang, kota Bukittinggi dengan karupuak sanjai, kota Payakumbuh dengan galamai. Selain itu, Sumatera Barat juga memiliki ratusan resep, seperti kipang kacang, bareh randang, dakak-dakak, rakik maco, pinyaram, Karupuak Balado, dan termasuk juga menghasilkan Kopi Luwak (Kopi sisa Musang).
Budaya pada Sumatera Barat ini lebih kearah minang yang mana pusat Minangkabau tersebut di Pagaruyung, Batusangkar – Sumatera Barat. Budayanya memiliki adat istadat yang dijunjung.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera_Barat
masyarakat
MASYARAKAT
Masyarakat sebuah komunitas yang berbeda dan relatif otonom yang anggotanya memiliki hubungan timbal balik sosial yang tertanam dan diekspresikan melalui media budaya.
Pengertian Masyarakat
Masyarakat dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti “kawan”. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata Arab, syaraka yang berarti “ikut serta berpartisipasi”
Menurut Koenjaraningrat, masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Unsur-unsur dalam Masyarakat
1. Interaksi antara warga-warganya
2. Adat istiadat
3. Norma-norma
4. Hukum
5. Aturan-aturan khas yang mengatur seluruh pola tingkah-laku warga
6. Identitas yang khas
7. Kontinuitas waktu (Koentjaraningrat, 2000:146)
Aneka Warna Masyarakat
• Komunitas
Adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.
• Golongan sosial
Merujuk kepada perbedaan hierarkis (stratifikasi) antara insan atau kelompok manusia dalam masyarakat atau budaya.
• Kelompok Sosial
Adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi.
Aneka Warna Manusia di Dunia
Aneka Warna Manusia di Dunia
Masalah aneka warna manusia di Eropa dalam abad Ke-16 hingga ke-19
Orang awam di Eropa pada umumnya tertarik akan sifat yang aneh dari benda-benda kebudayaan orang Afrika, orang Asia, orang Oseania, atau orang Indian Ameriak itu. Terdapat tiga pandangan dasar mengenai masyarakat dan kebudayaan manusia.
Pandangan pertama berdasarkan keyakinan bahwa sifat aneka warna manusia, baik ragawi maupun rohani, yang tampak dari bahan etnografi dan etnografikaitu, disebabkan karena mahluk manusia dari sejak awal diciptakan beraneka warna, atau karena mahluk manusia diturunkan dari beraneka warna mahluk induk. Berdasarkan cara berpikir itu, terdapat suatu pandangan yang seringkali disebut polygenesis, yang menganggap bahwa manusia dari ras kaukasoid dengan kebudayaannya yang berkembang di Eropa Barat itu berasal dari mahluk induk yang lebih kuat, lebih mampu, dan lebih tinggi daripada manusia ras lainnya.
Pandangan kedua adalah berdasarkan keyakinan bahwa manusia diciptakan sekali, yaitu bahwa manusia adalah keturunan dari satu mahluk induk. Pandangan ini juga disebut monogenesis. Dapat dibagi lagi kedalam dua sub pandangan. Pandangan pertama berdasarkan keyakinan bahwa semua mahluk manusia adalah keturunan nabi Adam. Sebaliknya ada juga sub pandangan yang mempunyai keyakinan bahwa mahluk manusia tidak mengalami degenerasi, tetapi kemajuan, dan bahwa aneka-warna masyarakat dan kebudayaan yang kini tampak itu disebabkan karena tingkat-tingkat kemajuan yang berbeda-beda pada tiap masyarakat manusia.
Ilmu anatomi dan masalah aneka warna manusia
Klasifikasi dari aneka-warna ciri tubuh manusia dalam hubungannya dengan sejarah persebarannya dimuka, dilakukan oleh seorang dokter bernama J.C Prichard (1786-1848) ia menghubungkan data etnografi mengenai ciri-ciri fisik dengan data etnografi mengenai kebudayaan berbagai bangsa yang tersebar didunia. Suatu teori yang menyatakan bahwa perobahan cara hidup, artinya perobahan kebudayaan, juga merupakan salah satu sebab dari perobahan ciri fisik manusia dikembangkannya dalam du buah buku ytang berjudul Research into the Physical History of man (1813) dan the natural History of man .
Filsafat social dan masalah aneka warna manusia
Montesquieu mencoba meneliti bebrapa gejala sosial mengenai hokum, pengendalian sosial dan integrasi social, dan himpunan data yang dikumpulkannya dalam waktu kira-kira 20 tahun dari sejumlah masyarakat yang berbeda-beda di Eropa dianalisa secara komparatif induktif. Beberap kesimpulan penting yang terdapat dalam bukunya yang terkenal L’Espirit de Loi (1748) ialah bahwa gejala aneka- warna masyarakat manusia merupakan akibat dari pengaruh sejarah masing-masing, tetapi juga pengaruh lingkungan alamnya dan struktur internnya. Ia juga pertama-tama mengajukan pandangan yang kelak dalam ilmu antropologi terkenal dengan nama relativisme kebudayaan, yaitu bahwa suatu unsure atau adapt dalam suatu kebudayaan tak dapat dinilai dengan pandangan yang berasal dari kebudayaan lain, melainkan dari system nilai yang pasti ada didalamnya sendiri. Akhirnya dalam bukunya ia juga mengajukan konsep tentang kemajuan masyarakat melalui tiga tingkat evolusi social, yaitu: tingkat masyarakat berburu atau liar (sauvage), tingkat beternak atau tingkat barbar (barbarisme) dan tingkat pertanian diman berkembang peradaban (civilization)
W. Robertson dari universitas Edinburgh yang menulis buku berjudul the histori of Amaerica (1777) diamana diajukan soal-soal yang kelak menjadi topic-topik penting dalam Antropologi. Ia juga berbicara tentang adanaya proses kemajuan kebudayaan manusia, yang dengan lambat berkembang dari bentuk- bentuk yang complex, dengna melalui tibgkat-tingkat savagery, barbarism, dan civilization. Ia berpendirian bahwa aneka warna kebudayaan yang kini tampak pada bangsa-bangsa dimuka bumi ini tidak disebabkan karena bangsa-bangsa itu dahulu berasal dari jenis-jenis mahluk induk yang berbeda, melainkan karena mereka terkena pengaruh lingkungan alam yang berbeda.
Filsafat Positivisme dan masalah aneka-warna manusia
Aguste Comte dalam buku raksasanya yang berjudul Course de Philosophie Positive (1830-1842). Comte mengajukan pendapatnya mengenai metodologi ilmiah umum, artinya yang dapat diterapkan terhadap semua ilmu pengetahuan yang ada. Suatu metodologi semacam itu idak perlu lagi meneliti sebab azasi dari gejala-gejala yang ada idunia ini, tetapi hany mencari, menganalisa, dan mendeskripsi hubungan-hubungan antara gejala-gejal yang ada itu secara eksak, kalau bias dengan rumus-rumus seperti dalam ilmu pasti.
Ilmu sosiologi sebagai ilmu yang baru oleh Comte dianggapa terdiri dari dua sub-ilmu, yaitu sosiologi statika dan sosilogi dinamika. Sub-ilmu yang pertama mempelajari hubungan-hubungan yang mantap antara bagian-bagian dari masyarakat dan gejala-gejala dalam masyarakat; sedangkan sub-ilmu yang kedua adalah sub-ilmu yang mempelajari perobahan-perobahan dalam hubungan-hubungan itu. Perobahan itu menurut Comte disebabkan karena cara berpikir manusia itu telah mengalami perobahan dan proses dalam tiga tahap, yaitu:
Tahap bahwa sebab dari semua gejala itu bersumber pada kehendak roh, dewa ,Tuhan.
Teologi yaitu tahap berpikir secara metafisik, yaitu tahap dimana manusia menerangkan bahwa gejala-gejala itu bersumber kepada kekuatan gaib atau abstrak.
Tahap berpikir secara ilmiah, manusia menkhusus kepada analisa untuk dapat mencapai pengertian tentang pengaruh hubungna dari gejal-gejal tertentu terhadap gejala-gejal lain dalam alam dan kehidupan masyarakat manusia. Sejajar dengna ketiga tahap perkembangan cara berpikir manusia itu, ada wujud kesinian religi, organisasi masyarakat, system pengetahuan, kesenian dan organisasi social yang tertentu.
Masalah aneka-warna manusia
Penelitian komparatif terhadap bahasa-bahasa didunia menimbulakan ilmu perbandingan bahasa pada pertengahan abad ke-19. Mula-mula ahli perbandingan bahasa seperti F. Bopp dan lain-lain melakukan analisa perbandingna bahasa antara bahasa yang tersebar diEropa Barat, Eropa Selatan, Armenia, Iran, Afganistan, Pakistan dan India, mereka beranggapan bahwa semua bahasa didaerah yang yang luas itu dapat digolongkan dalam satu keluarga bahasa yang besar , yang meraka sebut keluarga bahasa Indo-German.
contoh kasus penerapan ilmu antropologi dalam kehidupan sehari-hari
Contoh penerapan antropologi dalam kehidupan sehari-hari yaitu keadaan masyarakat di Gwenbe Tonga oleh Thayer Scudder. Masyarakat Gwenbe Tonga memiliki keadaan perekonomian yang baik setelah pembangunan bendungan di Danau Zambezi, Afrika Tengah. Hal ini terjadi sekitar tahun 1960 sampai akhir tahun 1970. Masyarakatnya dapat memproduksi barang dan jasa untuk keperluan sendiri sampai berlebihan sehingga mereka menjual kelebihan tersebut pada pasar dunia. Lama kelaman mereka lebih terkosentrasi untuk menproduksi barang dan jasa yang dijual ke pasar dunia. Prinsip ini sangat tepat diterapkan apabila keadaan harga di pasar dunia meningkat atau sesuai dengan harapan. Namun,sekitar tahun 1980-an keadaan masyarakat Gwenbe Tonga mulai memburuk ditandai dengan menurunnya moralitas, banyak masyarakat yang mabuk-mabukan, mencuru, berbuat onar, dan kimia. Hal ini disebabkan karena masyarakat Gwenbe Tonga mengurangi produksi pangan untuk masyarakatnya sendiri dan lebih.
Kesimpulan :
Menurut saya, berdasarkan contoh diatas antropologi tidak digunakan secara keseluruhan, tetapi hanya pada awalnya saja yaitu hanya pada perencanaannya saja.
Jumat, 15 Juni 2012
Bisa Dikatakan K-Popers
aku mungkin bisa dikatakan k-popers yaaaa....tapi ntah kenapa aku kurang suka dikatakan itu. tapi walaupun gak suka emang sekarang menyukai yang berbau korea. bukan hanya sekedar K-pop tapi K-dramanya juga. entah kenapa itu semua lebih menarik dari apa yang lagi update di negaraku sendiri ^^. soalnya gosip disini gak lebih dari sensasi apalagi sedikit aneh ngelihat budaya kita ikutan boyband girlband -__v
dari kecil memang suka nonton drama-drama korea tapi hanya sekedar nonton suka nontonnya. kalau sekarang mah bela-belain beli kasetnya yaa walau bajakan tapi kalau nunggu tayang di TV kelamaan dan rela begadang karna nonton drama karna susah stopnya. malah bisa 3 hari habis nonton drama 20 episode.
naaah kalau k-pop baru satu tahunan belakangan sukanya. semenjak nonton drama "Dream High". ntah kenapa jatuh hati sama orang yang berlagak dari Amerika padahal aslinya ngomong bahasa inggris aja masih belepotan. yaaaap... dia JASON, si JANG WOO YOUNG. suka banget liat peran dia disana.
awalnya gak tau kalau para aktor-aktrisnya ternyata emang penyanyi, dan tau kalau Wooyoung member 2PM mulailah mencari tau tentang 2PM dan wooyoung. pas juga waktu itu 2PM release album Hands Up. dan liat video clipnya yang keren semakin cinta deh sama 2PM. apalagi membernya beda dari boyband yang lain yang lebih memiliki face laki.
dan sampai saat ini setiap online pasti cari tahu tentang kegiatan para memeber 2PM terkhusus Wooyoung.
karna itulah semakin tertarik dengan k-pop dan k-drama. karna selalu pengen update tentang 2PM secara otomatis tau sama korean wave yang pernah ada project bareng sama 2PM dan JYP Nation.
karna cukup sering nonton variety show jadi lebih banyak tau sama boyband/girlband. karna itu juga suka sama BigBang, MBLAQ, SHinee, B2ST, TARA. tapi yaaaa hanya sekedar suka, yang pastinya tetap 2PM fandom utama dan all member JYP Nation ^^
jadi ini bisa dikatakan k-popers gak? terserahlaaaa...... tapi tetap gak suka dibilang KPOPERS. cuma sekedar update dan gak pengen alay, gak mau rusuh sama fandom yang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)